saat melihat - lihat taman ku, aku menemukan ilalang kecil dan itu lah tunas selama ini. aku mencabutnya, membuangnya agar tak mengganggu tumbuhan ku yang lain. tunas - tunas itu telah terlihat, menjadi tumbuhan-tumbuhan kecil yang manis.
terus ku siram, terkadang hujan yang menyiramnya. ku pupuk dan mereka tumbuh menjadi tumbuhan yang nyata bagiku, saat aku melihat mereka. aku menemukan ilalang yang telah tumbuh terlalu kuat berakar di taman indahku.
kekeringan pun datang, tak ada hujan, tak ada air untuk menyiram bunga, tak ada puput agar mereka subur. mereka mati perlahan dalam diam namun pasti. saat langkah - langkah melambat dalam diam ku lihat ilalang masih hidup, tak hijau memang namun dia tak mati.
dan ilalang itu terus tumbuh dalam tamanku tanpa ku sadari dan pada akhirnya mengiris jari - jari tanganku saat aku menggenggamnya.
Sunday, February 24, 2013
BUKAN AKU, NAMUN HATIKU
tumbuh dati tunas, tunas yang tak di sadari keberadaannya. tumbuh tersiram hujan, hampir mati dalam kekeringan panjang dan muncul tunas - tunas lain yang beragam. alam memilihnya. tunas hampir mati itu tersiram hujan dan kembali tumbuh. aku memupuk tunas lain yang tak ku sadari tunas itu ikut menyerapnya. aku terus memupuk tunas - tunas ku yang lain dan setiap itu pula tunas itu ikut menyerapnya.
saat melihat - lihat taman ku, aku menemukan ilalang kecil dan itu lah tunas selama ini. aku mencabutnya, membuangnya agar tak mengganggu tumbuhan ku yang lain. tunas - tunas itu telah terlihat, menjadi tumbuhan-tumbuhan kecil yang manis.
terus ku siram, terkadang hujan yang menyiramnya. ku pupuk dan mereka tumbuh menjadi tumbuhan yang nyata bagiku, saat aku melihat mereka. aku menemukan ilalang yang telah tumbuh terlalu kuat berakar di taman indahku.
kekeringan pun datang, tak ada hujan, tak ada air untuk menyiram bunga, tak ada puput agar mereka subur. mereka mati perlahan dalam diam namun pasti. saat langkah - langkah melambat dalam diam ku lihat ilalang masih hidup, tak hijau memang namun dia tak mati.
dan ilalang itu terus tumbuh dalam tamanku tanpa ku sadari dan pada akhirnya mengiris jari - jari tanganku saat aku menggenggamnya.
saat melihat - lihat taman ku, aku menemukan ilalang kecil dan itu lah tunas selama ini. aku mencabutnya, membuangnya agar tak mengganggu tumbuhan ku yang lain. tunas - tunas itu telah terlihat, menjadi tumbuhan-tumbuhan kecil yang manis.
terus ku siram, terkadang hujan yang menyiramnya. ku pupuk dan mereka tumbuh menjadi tumbuhan yang nyata bagiku, saat aku melihat mereka. aku menemukan ilalang yang telah tumbuh terlalu kuat berakar di taman indahku.
kekeringan pun datang, tak ada hujan, tak ada air untuk menyiram bunga, tak ada puput agar mereka subur. mereka mati perlahan dalam diam namun pasti. saat langkah - langkah melambat dalam diam ku lihat ilalang masih hidup, tak hijau memang namun dia tak mati.
dan ilalang itu terus tumbuh dalam tamanku tanpa ku sadari dan pada akhirnya mengiris jari - jari tanganku saat aku menggenggamnya.
RANTING - RANTING PENJARA
sayap - sayapnya patah, terjatuh tanpa teriakan dan tangis. berputar, bukan tak ingin namun tak mampu. kegelapan dalam diam merayap, meraba setiap lekukan namun tak terpejam. tanpa tawa, tanpa senjata menunggu yang datang, harapan menguap bersatu bersama angan dan angin yang menghancurkan. tetap menunggu hingga cahaya datang dan tetap terdiam.
dimana mana ada daun yang berjatuhan, ada angin yang datang melululantakkan namun tanpa obat sebagai penguat. rasanya sayap - sayap telah hancur tak mampu lagi mengepak. tertatih berjalan tanpa tujuan. sekali lagi rasa sakit mengingatkan.
beberapa mendekat namun saat selangkah lagi bertemu, semua mundur pergi meninggalkan jejak. ceruk ceruk air terlihat ramai, aku di dalamnya namun tetap terasa sepi. sayap tak lagi membanggakan, aku kehilangan
dimana mana ada daun yang berjatuhan, ada angin yang datang melululantakkan namun tanpa obat sebagai penguat. rasanya sayap - sayap telah hancur tak mampu lagi mengepak. tertatih berjalan tanpa tujuan. sekali lagi rasa sakit mengingatkan.
beberapa mendekat namun saat selangkah lagi bertemu, semua mundur pergi meninggalkan jejak. ceruk ceruk air terlihat ramai, aku di dalamnya namun tetap terasa sepi. sayap tak lagi membanggakan, aku kehilangan
Subscribe to:
Comments (Atom)
BERSEDIA UNTUK TINGGAL
Saya ingat, dulu sekali saya pernah memintamu pada Tuhan. Seseorang yang bersedia untuk tinggal dan berada disisi saya setelah tahu banyak ...
-
Saat memilih untuk mencintai harusnya tiap-tiap kita tahu apa resikonya. Sudah tertulis jelas segalanya pasti bermuara, saat ada yang menga...
-
Bagaimana aku dapat mengucapkan “selamat tinggal, aku melepasmu….” Kepada seseorang yang tak pernah jadi milikku ? Kenapa aku menangisi ses...
-
Bahagia itu sederhana. Sesederhana kita berbagi apa yang kita miliki. Bahagia itu saat senyum para sahabat dan orang yang dicintai mengemba...