Saya ingat, dulu sekali saya pernah memintamu pada Tuhan. Seseorang yang bersedia untuk tinggal dan berada disisi saya setelah tahu banyak hal yang tidak saya miliki. Kamu tidak perlu jadi seseorang yang selalu maju paling depan untuk melindungi saya, saya tidak mencari seseorang yang kuat. Saya tahu, kelebihan datang sepaket dengan kekurangan. Saya bersedia menerimanya seperti bagaimana kamu tidak pernah mempermasalahkan apa yang ada pada diri saya. Jika saya boleh meminta, saya ingin waktu dan kesabaranmu, kamu tahu kenapa.
Kamu pasti mengerti, saya dengan segala pemikiran rumit yang menemani hari-hari saya dan kamu jadi hal yang begitu sangat sederhana untuk menjadikan ini sempurna. Saya bersyukur setiap harinya untuk luka yang pernah berdarah begitu lama, bersyukur karena Tuhan tidak pernah membiarkan saya seorang diri saat menangis, bersyukur bahwa orang-orang baik masih begitu banyak dalam hidup saya. Dan kamu, jadi alasan saya semakin bersyukur untuk hari - hari yang sulit atau yang membahagiakan.
Banyak sekali yang bersedia hadir namun tidak mampu untuk tinggal. Harapan saya pada hari- hari panjang yang akan datang, kamu selalu bersedia tinggal dan menyanyangi saya. Saya akan selalu memintamu lagi, lagi dan lagi pada Tuhan.
Kita tentu mengerti, jika kenangan dan masa lalu bukanlah hal yang mampu kita jadikan saingan untuk mendapatkan hati seseorang. Kamu dan aku tidak bisa melangkah ke depan jika selalu melihat kebelakang. Saya terlalu pintar untuk bertahan pada tempat yang bukan milik saya. Kamu tentu tahu, saya bukan perempuan yang mudah menyerah. Namun menyembunyikan luka bukan bagian dari keahlian yang saya miliki. Saya terlalu sadar untuk tahu kapan harus maju dan kapan saya harus mundur.
Semoga kelak bahagia selalu menemani hidup kita; masing-masing.

.jpg)