Monday, August 18, 2014

benarku dan benarmu terlalu berjarak

Kita adalah aku dan kamu. Saat salah satu dari kita menjadi pembicara yang baik dan salah satu dari kita yang lain bukanlah pendengar yang baik. Aku dan kamu yang dinamai kita mampu berbuat apa ?

Cinta tidaklah melihat bagaimana aku membatasimu namun bagaimana aku menjagamu. 

Seharusnya kita saling menguatkan agar tak pernah ada yang lemah lalu menyerah.



Memberi kesempatan adalah hal yang mampu saya lalukan dan diberi kesempatan adalah hal yang tak mampu saya dapatkan. Hidup sesimple memberi tanpa mengharap orang yang sama -tidak hanya diam dalam penerimaan.

Saya mungkin salah dengan segala cara saya menjaga tapi disetiap detiknya, yang saya letakkan disana kebaikan sebab saya tidak ingin melihat orang yang saya kasihi terlihat tidak baik baik saja.  Saya bukan wanita yang hanya diam saat melihat sesuatu yang buruk kamu undang masuk ke dalam diri mu.

Sesuatu yang saya anggap benar adalah sebuah salah untuk mu. Dan kesalahan yang kamu buat terlalu berat untuk saya benarkan. Jika tak pernah ada salah maka kita tak pernah tau apa itu benar. Jika tak pernah ada salah maka kita tidak pernah belajar untuk menjadi lebih baik. Jika tak pernah ada salah maka tak pernah ada kita.

Aku dan kamu yang diberi nama kita adalah sebuah salah yang tak pernah jadi benar -karna kita berhenti memperbaikinya.



Sunday, August 17, 2014

P O T O N G A N

Entah langit menangis atau bahagia. Entah hanya sekedar berawan atau mendung. Entah tanah basah atau gersang berdebu. Entah angin bersorak atau hanya berbisik. Entah musim berganti atau bahkan diam di tempat; bagiku masih sama , masih namamu, masih untukmu  -yang lalu.

Diam diam aku bertanya pada setiap kenangan. Apa dia pernah kemari hanya untuk sekedar mengingat kami ? Apa di lain waktu saat aku merasa ingin memeluknya dia sedang mendekap bayang bayangku ? Apa dia menyusuri kenangan kami hanya dengan dirinya dan kenangan yang seperti tak mampu menguap ?

Maaf untuk setiap potongan masa depan yang melibatkanmu di dalamnya. Kini ini milikku, lupakanlah. Jika -meski tak mampu, berbohonglah. Bohongi saja aku, berpura puralah sudah tak mengingatnya -untuk kita.

Berprasangka baiklah padaku juga pada segala jarak yang ku ciptakan, tidak untuk menyingkirkanmu.
Berprasangka baiklah padaku juga pada segala diamku, tidak untuk membuatku terlihat benar.
Berprasangka baiklah padaku juga pada segala bicaraku, tidak untuk menghalangi langkahmu.
Berprasangka baiklah padaku yang juga berprasangka baik atas segala yang ku lihat juga ku dengar tentangmu -yang menyakitiku.




Pergi jika bosan dan kembali saat ingin, maklum tak pernah punya akhirkan ? Logika tak pernah mau mengalah dan ego tak pernah terkalahkan terkecuali cinta mengisi setiap pori-porinya.

Bertahan saat ingin begitu mudah bukan ? Bagaimana jika mempertahankan saat sudah tak ingin, tak memiliki alasan lain selain tak pernah ingin melihat kehancuran ? Jika ini kau sebut egois maka aku harus menyebut kepergianmu sebagai apa ? Harus ku namai keikhlasan ? Keharusan ? Atau rencana tuhan ?

Cerita baru tak melulu tentang tokoh tokoh baru -pula. -L-

BERSEDIA UNTUK TINGGAL

Saya ingat, dulu sekali saya pernah memintamu pada Tuhan. Seseorang yang bersedia untuk tinggal dan berada disisi saya setelah tahu banyak ...