Entah langit menangis atau bahagia. Entah hanya sekedar berawan atau mendung. Entah tanah basah atau gersang berdebu. Entah angin bersorak atau hanya berbisik. Entah musim berganti atau bahkan diam di tempat; bagiku masih sama , masih namamu, masih untukmu -yang lalu.
Diam diam aku bertanya pada setiap kenangan. Apa dia pernah kemari hanya untuk sekedar mengingat kami ? Apa di lain waktu saat aku merasa ingin memeluknya dia sedang mendekap bayang bayangku ? Apa dia menyusuri kenangan kami hanya dengan dirinya dan kenangan yang seperti tak mampu menguap ?
Maaf untuk setiap potongan masa depan yang melibatkanmu di dalamnya. Kini ini milikku, lupakanlah. Jika -meski tak mampu, berbohonglah. Bohongi saja aku, berpura puralah sudah tak mengingatnya -untuk kita.
Berprasangka baiklah padaku juga pada segala jarak yang ku ciptakan, tidak untuk menyingkirkanmu.
Berprasangka baiklah padaku juga pada segala diamku, tidak untuk membuatku terlihat benar.
Berprasangka baiklah padaku juga pada segala bicaraku, tidak untuk menghalangi langkahmu.
Berprasangka baiklah padaku yang juga berprasangka baik atas segala yang ku lihat juga ku dengar tentangmu -yang menyakitiku.
Pergi jika bosan dan kembali saat ingin, maklum tak pernah punya akhirkan ? Logika tak pernah mau mengalah dan ego tak pernah terkalahkan terkecuali cinta mengisi setiap pori-porinya.
Bertahan saat ingin begitu mudah bukan ? Bagaimana jika mempertahankan saat sudah tak ingin, tak memiliki alasan lain selain tak pernah ingin melihat kehancuran ? Jika ini kau sebut egois maka aku harus menyebut kepergianmu sebagai apa ? Harus ku namai keikhlasan ? Keharusan ? Atau rencana tuhan ?
Cerita baru tak melulu tentang tokoh tokoh baru -pula. -L-

No comments:
Post a Comment