Maaf jadi kata yang terlambat untuk ku terima, haruskah
menolaknya ? ku selipkan doa untuk semua kebohongannya. Saat diam jadi sesuatu
yang ku lakukan untuk menjaga keindahan , namun aku hancur di dalamnya. Bisakah
aku memesan cinta yang baru dengan kadar terluka yang rendah. Haruskah aku diam
dan tak melihat saat aku di depan kenyataan bukan bayangan.
Saat aku menumpuknya , tadinya hanya beberapa. Ketika aku
melihat , ternyata sudah penuh. Aku sudah menimbun terlalu banyak dan di puncak
undukan terasa beban berat akan menimpa. Jika aku tidak membuangnya maka ini
jadi sesuatu yang lebih menghancurkanku. Salahkan alasan logika yang ku minta. Inilah
caranya, cara-Nya berbicara padaku tentang menunggu, cinta dan air mata.
Apa masih pantas ? jika saja air mata kran air berkatub. Aku bisa
menutupnya untuk sementara. Bukan kah air mata juga berarti bahagia ? aku harus
membayar waktu ku dengan air mata. Ku rasa bukan hal yang buruk. Ini hanya
sebuah awal baru bukan akhir, aku melangkah menuju hal yang berada di depanku
tanpa melihat kebelakang namun tidak melupakan yang terjadi. Bukan kah semakin
kau berusaha melupakannya dia semakin hidup dalam bayangan mu ?
Aku bukan bayangan . aku kenyataan yang dengan pasti
menjejejakkan kaki pada jalan berliku bersama mu orang yang menggandeng ku dan
sesekali jika aku lelah kau menggendongku. Tidakkah kenangan menyesakkan. Aku
terus memaksanya masuk tanpa peduli apa yang ada di dalamnya, kenapa semua terasa penuh dan sekarang rasanya
di sana akan meledak. Bukan untuk rasa sakit terlebih untuk apa yang tertimbun.
Apa akau menanam bom pada diriku sendiri, kurasa iya. Orang bodoh
apalagi ini yang berdialog dengan cinta dan air mata, rasa sakit jadi obat dan
senyuman hanya hiasan. Bukankah kuat bukan berarti kau tidak pernah menangis ?
kuat tidak berarti apapun yang terjadi aku tidak terluka dan semua baik-baik
saja. Kuat tidak berarti aku memaafkan tanpa luka yang membekas. Tapi aku
mencobanya. Kenapa menolak hal baik ?
Tak mungkin ku sesali, ini caraNya mengatakan padaku
begitulah dirimu.
No comments:
Post a Comment