Aku punya takdir yang harus ku jalani seperti malam yang
merangkak naik saat matahari menyingsih. Aku punya aliran air yang kapan saja
bisa meluncur tanpa permisi saat bagian dari diriku tersakiti. Terkadang
memiliki tempat bersandar membuat mu lupa bagaimana caranya duduk dengan benar.
Selalu ada yang menggenggam saat tangan tak mampu menopang, selalu ada punggung
yang siap kapan saja saat tungkai kaki meronta- ronta dan ada hati yang selalu
memeluk saat kesepian jadi teman.
Tak ada cinta yang datang untuk menyakiti, hanya saja
semakin banyak harapan – harapan yang terselip di antara kebersamaan semakin
banyak luka yang akan muncul. Pertemuan hanya jalan lain menuju perpisahan.
Kita terus melangkah namun “dia “ yang ku sebut memori tetap
tinggal di sana, tak terusik. Semua yang tak terlihat bukan berarti tak ada kan
? semua yang tak ku dengar bukan berarti tak ada kan ? dia tetap d sana
menunggu waktu meninggalkannya
No comments:
Post a Comment