Ku ceritakan tentang sebuah penantian untuk kejujuran. Dia
yang tak pernah lelah untuk menunggu dalam lautan kesabaran yang terus
menelannya. Menunggu sangat lah membosankan, kesabaran bukan lah sebuah hal
yang dapat di ukur.
Cinta tanpa takaran, rindu tanpa pemberhentian dan sakit
tanpa obat jadi teman penantian. Tawa adalah saksi dari air mata yang lelah
menetes. Dan perbincangan sebuah jembatan. Begitu banyak jalan bercabang,
bersimpangan, membingungkan.
Memperjuangkan seseorang yang untuk mu “segalanya” tidak
mudah bukan ? segalanya bisa ku tanggung namun tak untuk kebohongan tanpa
ujung. Aku mengingat sosok seperti apa yang berbicara pada ku tentang sebuah
kebohongan yang apapun bentuknya tak akan ada kata “demi kebaikan” terlebih
mengatas namakan cinta. Sebuah kesalahan besar.
Tak harus membayar segalanya dengan cinta , cukup ikut
merasakan perumpamaan “jika jadi aku apa
rasanya”. Terkadang sebuah senyuman mengartikan banyak hal. Aku mengungkapkan
harapan lewat senyuman, pernah kah berfikir ?
Kemarahan yang tak pernah keluar, teriakan yang tersimpan.
Menyesakkan dada, seperti bom yang di telan dan siap meledak. Tak berartikah
waktu ? gambaran apa yang terpantul dalam matamu dengan kenyataan dunia yang
berbeda ? kita tidak tinggal dalam dunia yang sama ? dunia seperti apa yang kau
tinggali ? begitu indahkah hingga mengaburkan pandangan ? membekukan perasaan ?
Tak pernah terpikir untuk mempertanyakan pertanyaan yang
sama . Yang ku harap cukup kalimat maaf, alasan logis dan sebuah pernyataan
yang menjanjikan.

No comments:
Post a Comment