Tuesday, January 21, 2014

Sebuah Jalan Buntu

Ku ceritakan tentang sebuah penantian untuk kejujuran. Dia yang tak pernah lelah untuk menunggu dalam lautan kesabaran yang terus menelannya. Menunggu sangat lah membosankan, kesabaran bukan lah sebuah hal yang dapat di ukur.

Cinta tanpa takaran, rindu tanpa pemberhentian dan sakit tanpa obat jadi teman penantian. Tawa adalah saksi dari air mata yang lelah menetes. Dan perbincangan sebuah jembatan. Begitu banyak jalan bercabang, bersimpangan, membingungkan.

Memperjuangkan seseorang yang untuk mu “segalanya” tidak mudah bukan ? segalanya bisa ku tanggung namun tak untuk kebohongan tanpa ujung. Aku mengingat sosok seperti apa yang berbicara pada ku tentang sebuah kebohongan yang apapun bentuknya tak akan ada kata “demi kebaikan” terlebih mengatas namakan cinta. Sebuah kesalahan besar.

Tak harus membayar segalanya dengan cinta , cukup ikut merasakan  perumpamaan “jika jadi aku apa rasanya”. Terkadang sebuah senyuman mengartikan banyak hal. Aku mengungkapkan harapan lewat senyuman, pernah kah berfikir ?


Kemarahan yang tak pernah keluar, teriakan yang tersimpan. Menyesakkan dada, seperti bom yang di telan dan siap meledak. Tak berartikah waktu ? gambaran apa yang terpantul dalam matamu dengan kenyataan dunia yang berbeda ? kita tidak tinggal dalam dunia yang sama ? dunia seperti apa yang kau tinggali ? begitu indahkah hingga mengaburkan pandangan ? membekukan perasaan ?

Tak pernah terpikir untuk mempertanyakan pertanyaan yang sama . Yang ku harap cukup kalimat maaf, alasan logis dan sebuah pernyataan yang menjanjikan.

No comments:

Post a Comment

BERSEDIA UNTUK TINGGAL

Saya ingat, dulu sekali saya pernah memintamu pada Tuhan. Seseorang yang bersedia untuk tinggal dan berada disisi saya setelah tahu banyak ...