Harus sebanyak apalagi selamat tinggal yang terucap untuk
orang yang sama ? sepertinya selamat tinggal kehilangan esensinya sebagai kata
perpisahan untuk ku. Harus selama apa lagi ? harus berapa kali lagi ku lompati
waktu untuk setiap ucapan selamat tinggal mu sayang ? tak lelahkah kau bergulat
dengan kata perpisahan ? boleh aku bertanya, selamat tinggal yang ku baca pada
pada kotak pesan ku , kau tulis dengan hati mu tidak ? anehnya setiap ku baca
pesan selamat tinggal mu yang ingin ku lakukan memelukmu dan tak lagi ku lepaskan.
Tak rindukah kau pada pelukan ku ? pada
jari – jariku yang bermain di punggungmu ? pada wangi rambutku di dadamu ?
Berapa banyak selamat tinggal yang harus ku dengar ? berapa
banyak selamat tinggal yang harus tak ku hiraukan? Bisa kita akhiri permainan
yang membosankan ini ? maaf jika ku tak bisa berjanji untuk tak melukaimu , aku
layaknya manusia biasa meski aku memiliki kemampuan lebih dari wanita lain jika
itu berarti membahagiakan mu. Minta aku berjanji untuk tak meninggalkanmu, maka
tangan ini akan selalu dalam genggaman mu.
Lagi, lagi dan lagi tak ku temukan penjelasan dari mu selain
‘ selamat tinggal’ dalam kotak pesanku. Baiklah terserah padamu, jika kita tak
cukup baik untuk bersama maka ayo kita berpisah saja. Ini kah keputusan yang
kau anggap cukup baik ? jangan ingat kebersamaan kita, jangan ingat harapan dan
mimpi – mimpi kita, jangan kenang bagaimana cara kita berbagi, jangan kenang
apapun ! maka kau ku lepaskan.
Melepaskan tidak semudah mengucapkan selamat tinggal sayang. Jika kau salah maka aku tak lagi butuh benar. Jika kau hitam maka biarlah tak ada lagi putih. Jika ini sakit biarlah ini jadi sakit ku yang terakhir. Melepaskan tidak semudah berkata selamat tinggal sayang. Melepaskan tidak semudah berkata pergi. Melepaskan tidak semudah terjatuh. Melepaskan –untuk ku- sesulit bangkit berdiri. Melepaskan sesulit membuat waktu berjalan mundur –tidak mungkin.
Jangan megucapkan selamat tinggal pada orang yang tak mampu kau tinggalkan sayang
No comments:
Post a Comment